Pengabdian Masyarakat Program Tablet Tambah Darah untuk Remaja Putri di Kota Cimahi

“Tablet Tambah Darah” merupakan program Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang bertujuan untuk mengurangi prevalensi anemia. Berkaitan dengan hal tersebut, Poltekkes Kemenkes Bandung bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Cimahi menjalankan program pemerintah ini pada Januari – Februari 2017. Program ini sekaligus dijadikan sebagai pengabdian masyarakat bagi para dosen yang berkewajiban melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sasaran dari program ini ialah seluruh remaja putri SMP dan SMA di Kota Cimahi yang berjumlah 13.000 orang. Program Tablet Tambah Darah terdiri atas beberapa tahapan, yaitu pemeriksaan kadar hemoglobin, pemberian tablet penambah darah setiap satu minggu sekali selama satu tahun, kemudian sebagai monitoring dilakukan pemeriksaan kembali kadar hemoglobin setelah pemberian tablet. Tablet yang diberikan berisi Fe (zat besi) dan dikemas dengan ukuran mikro, tujuannya adalah agar tablet tersebut lebih mudah dan cepat diserap oleh tubuh. Tablet ini disediakan langsung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Pelaksanaan program pemeriksaan kadar hemoglobin periode pertama berlangsung pada tanggal 16 Januari sampai 20 Februari 2017. Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas 3 orang dosen pembimbing dan mahasiswa tingkat 3 dan 4 Prodi D-4 Analis Kesehatan, secara bergilir melakukan pemeriksaan di SMP dan SMA yang telah ditentukan pada hari Senin sampai Jumat.

Menurut Dr. Ani Riyani., M.Kes. selaku koordinator program “Tablet Tambah Darah” dari pihak kampus Analis Kesehatan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi awal terjalinnya MoU antara Dinas Kesehatan Kota Cimahi dan Poltekkes Kemenkes Bandung, khususnya Jurusan Analis Kesehatan. Beliau menambahkan, untuk program pengentasan anemia pada remaja putri sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui pemberian tablet penambah darah, melainkan perlu disertai dengan pemberian makanan yang bergizi. Ada dua faktor utama yang dapat menyebabkan kurangnya asupan makanan bergizi pada remaja putri, yaitu karena takut gemuk atau dikarenakan faktor ekonomi keluarga yang lemah. Data hasil pemeriksaan yang telah diperoleh menunjukkan bahwa prevalensi anemia lebih tinggi pada sekolah dengan kualitas menengah ke bawah.

Salah seorang mahasiswi tingkat akhir, Anissa Susilawati, menyatakan senang karena mendapatkan banyak sekali pengalaman melalui pengabdian masyarakat ini. Dengan terjun langsung ke masyarakat, ia bisa menerapkan ilmu yang telah dipelajari di perkuliahan, seperti teknik sampling, cara pemeriksaan hemoglobin, cara komunikasi yang baik, inform consent, problem solving, dan sekaligus mengembangkan social skill. Selain itu, ia merasa kegiatan seperti ini mampu mengasah kepekaan sosial serta kepedulian terhadap sesama.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *